WANITA DAN SIFAT CEREWETNYA - RAGIL SAPUTRI

WANITA DAN SIFAT CEREWETNYA

WANITA DAN SIFAT CEREWETNYA




Wanita dan kecerewetannya seperti sepasang kekasih yang lagi fall in love, tidak bisa terpisahkan. Semua pasti setuju kalau sebagian besar wanita memang cerewet.
Menurut Felix Siauw di videonya yang berjudul “Karunia Terindah Untuk Wanita” mengatakan bahwa laki-laki mempunyai kosa kata lebih sedikit dibanding wanita. Jika rata-rata seorang wanita perharinya mengucapkan 20.000 kata maka seorang pria hanya memerluka 10.000 kata perhari.

Itulah mengapa meskipun sudah seharian diluar rumah, wanita masih punya banyak energi untuk berbicara, apalagi kalau didukung dengan tibanya di rumah, rumah berantakan, anak belum pada mandi, belum memasak. Energi mereka malah akan semakin terisi penuh. Terisi penuh untuk marah maksudnya. Ha ha ha

Menghadapi kecerewatan wanita itu hanya perlu telinga yang bandel dan hati yang seluas samudra. Pasti semua pernah merasakan rasanya diomeli bukan? Biasanya siapa yang sering ngomel? Ibu, istri, kakak perempuan atau siapa? Salah naruh gelas aja urusan bisa panjang lho, pernah mengalami hal sepele tapi malah bikin nguras emosi?

Tapi pernah nggak sih kalian berfikir tentang segi manfaat dari seorang wanita yang mungkin aku bisa menyebutnya bahwa wanita itu memang sudah fitrahnya untuk cerewet akan banyak hal. Cerewet kok ada manfaatnya. Yang ada bikin telinga dan hati panas. Ha ha ha

Tetapi beberapa hari kemarin, ada sesuatu yang membuat aku berfikir “untung ibu orangnya cerewet”, kenapa aku berfikir seperti itu, aku langsung teringat beberapa hal. Salah satunya saat rumah berantakan siapa yang paling cerewet, jawabnya adalah ibu. Bayangkan saja kalau ibu tidak cerewet diam saja, jadi apa rumahnya, bakalan kayak kapal pecah kan?

Saat kita sebagai anak-anak mau berangkat sekolah atau pergi, melihat pakaian yang kita pakai tidak rapi, siapa yang suka komentar paling panjang? Yang akan menyalahkan kita kenapa tidak segera menaruh pakaian kotor di tempat cucian. Bayangkan jika saat kita keluar rumah, pakaian tidak disetrika nampak dekil dan tidak ada yang mencereweti kita, apa jadinya?

Saat dulu kita masih kecil, tidak mau makan sayur, siapa yang paling sering ngomel dan tidak kenal lelah membujuk kita untuk makan sayur? Yaap dia adalah ibu.

Tapi pasti di lingkungan terdekat, entah saudara atau tetangga pasti ada seorang wanita yang tidak cerewet, tapi aku merasa wanita yang tidak cerewet itu seperti wanita yang tidak peduli atau masa bodoh. Tapi ini cerewet dalam hal baik ya, bukan cerewet yang suka nyinyir dan gosipin tetangga, meskipun dengan ngobrolin tetangga sebenarnya kita tahu berita dan dan kabar mereka bukan.

Jadi intinya apa sih tulisan ini aku buat? Tetap bersyukur saat masih ada yang cerewet kepada kita, itu sebuah bukti bahwa kita masih ada yang memperhatikan bukan? Ada berapa banyak orang yang menyesal atau merasa rindu karena tidak pernah bisa mendengar kecerewetan atau omelan sang ibu, istrinya atau bahkan anak perempuannya.

Semoga bermanfaat bagi semua.




Disqus Comment

Formulir Kontak